Skip to main content

Cara Mengatasi Anak yang Hiperaktif



Anak aktif dan hiperaktif, apakah berbeda? Anak aktif adalah anak yang memiliki kelebihan energi, sehingga mereka lebih aktif bergerak dibandingkan anak lainnya. Pada anak aktif, kondisi otak dalam keadaan normal tanpa gangguan. Sedangkan, anak hiperaktif adalah anak yang memiliki gangguan tingkah laku karena perkembangan otak yang tidak normal. Kondisi ini disebabkan oleh adanya gangguan pada pusat perhatian dan saraf otak motorik. Akibatnya, anak hiperaktif sulit memusatkan pikiran, perhatian, dan konsentrasi.
Anak hiperaktif bukanlah anak yang memiliki keterbelakangan mental. Mereka hanya perlu ditenangkan dan diperlakukan dengan cara yang tepat. Lantas, apa yang bisa ibu lakukan jika memiliki anak hiperaktif? Simak beberapa tips mengatasi anak hiperaktif di bawah ini, yuk!

Lakukan Kegiatan Positif

Untuk menyalurkan energi Si Kecil yang berlebih, ibu bisa mengajak Si Kecil melakukan kegiatan yang Si Kecil sukai, misalkan menggambar, mewarnai, memasak, dan kegiatan positif lainnya. Atau, ibu juga bisa mengajak Si Kecil berolahraga untuk menyalurkan energinya yang berlebih, membantu menstimulasi otaknya, dan membantu otak anak berkembang sempurna sehingga diharapkan gejala hiperaktif Si Kecil bisa berkurang. Ibu bisa mengajak Si Kecil melakukan olahraga ringan, seperti jalan kaki, lari, berenang, sepak bola, dan olahraga ringan lainnya.

Buat Perjanjian

Untuk mengendalikan perilaku Si Kecil, ibu bisa membuat perjanjian sederhana tentang perilaku apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Hal ini untuk membantu Si Kecil mengerti apa yang baik dan benar. Ibu bisa memberikan pujian atau hadiah saat Si Kecil melakukan hal-hal baik sebagai penghargaan karena Si Kecil telah mengerti, mengikuti aturan, dan berperilaku baik. Namun jika Si Kecil melanggar aturan, ibu bisa memberikan teguran sambil menjelaskan mengapa perilaku yang mereka lakukan tidak diperbolehkan.

Bantu Si Kecil Relaksasi

Saat mereka mulai merasa stres dan sulit mengendalikan emosi atau perilaku, ibu bisa mengajari Si Kecil tentang teknik bernapas atau relaksasi. Bantu mereka relaksasi dengan menarik dan membuang napas, sehingga Si Kecil bisa mengendalikan emosi dan perilakunya.

Beri Si Kecil Perhatian

Karena perilaku Si Kecil yang sangat aktif, ibu harus lebih bersabar dan tetap memberikan Si Kecil perhatian dan kasih sayang agar Si Kecil tetap dalam keadaan yang terkendali.

Konsultasi ke Psikiater

Untuk mendapatkan diagnosa yang tepat, ibu perlu berkonsultasi dengan psikiater tentang kondisi Si Kecil. Dengan bantuan psikiater, ibu bisa mengetahui apakah Si Kecil termasuk anak hiperaktif atau bukan. Selain itu, dengan bantuan psikiater, Si Kecil juga akan diberikan terapi untuk mengurangi gejala hiperaktifnya.


Sumber : Halodoc

Comments

Popular posts from this blog

Resep Rahasia Ku... Ibu-ibu wajib baca tip ini jika mau memastikan rahim dan vagina dalam keadaan sehat sepanjang usia. Ini juga salah satu cara untuk  kelancaran dan keharmonian dalam hubungan suami isteri. Penampilan tidak sekadar dilihat dari segi luaran semata.  Sebaliknya jika cantik di dalam maka cantiklah luarnya. Yang penting, menjaga kesehatan  dan kecantikan itu perlu. Nah, beberapa yang bisa membantu anda menjaga rahim dan vagina  supaya sentiasa sehat.  1. Mandi serum Adalalah mandi herbal.  Biasanya mandian ini dilakukan oleh wanita setelah melahirkan. Tapi bagi yg belum atau sudah melahirkan bisa juga.  Maka daun-daun yang terpilih akan dikutip dan direbus untuk dibuat mandian. Antara daunnya adalah: Daun pandan Daun limau purut Daun serai wangi Daun mengkudu Daun kunyit JAHE Selain bertujuan untuk buang angin khasiat dari rebusan daun tersebut mampu melancarkan perjalanan darah serta memberi khasiat pad...
SEDANG MEWABAH, KENALI GEJALA DIFTERI DAN CARA PENCEGAHAN NYA.. Belakangan ini, masyarakat Indonesia sedang dicemaskan oleh mewabahnya penyakit difteri. Menurut data Kementrian Kesehatan, hingga November 2017 tercatat sebanyak 11 provinsi melaporkan kejadian luar biasa difteri dengan 32 kasus di antaranya meninggal dunia. Daftar kasus difteri terus meningkat hingga mencapai ratusan di berbagai daerah. Sebenarnya sebelum tahun 2017, wabah difteri juga pernah terjadi pada tahun 2009. Penyebab mewabahnya penyakit difteri adalah menurunnya minat orangtua memberikan imunisasi pada anak. Padahal, penyakit difteri ini bisa dicegah sejak dini dengan pemberian imunisasi, lho. Apa itu difteri? Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri  Corynebacterium  d iptheriae yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Terkadang, penyakit ini pun memengaruhi kulit. Termasuk dalam jenis penyakit serius yang sangat menular, difteri pun bisa berakibat fatal b...